Sabtu, 27 Juni 2009

Cerpen

JANGAN PERNAH BERHENTI

Pagi yang cerah,langit yang biru dihiasi awan-awan kecil yang bergerak perlahan.Dengan perlahan aku buka mataku dan bangkit deri kasurku dan dengan perlahan aku memasang seragamku dan aku segera turun ke ruang makan untuk sarapan yang telah disiapkan Ibuku.

“Rayne, cepat berangkat!Nanti terlambat” Kata Ibuku dengan lembut
“baik,aku akan berangkat setelah merapikan ini” kataku sambil mengantar sisa sarapanku ke tempat piring kotor lalu aku segera berangkat.Dengan agak berlari aku menuju sekolah.saat aku mulai melihat murid-murid dari sekolahku,aku mulai memelankan langkahku dan mulai membaca catatan pelajaran pertama pada hari ini.
Seperti kelas lain disekolah-sekolah pada umumnya, kelasku sangat berisik tapi penuh canda tawa. Aku duduk di kursiku dan tetap serius membaca catatanku tampa mempedulikan suasana kelas. Tiba-tiba , terasa ada seseorang yang menyentuh pundakku dari belakang dan aku segera menoleh ke arah belakan.
“Selamat pagi Rayne” kata seorang yang menyentuh pundakku, orang itu adalah Rena. Rena adalah sahabatku sejak Taman kanak-kanak.Saat kami masih di taman kanak-kanak, suatu ketika aku diserang oleh seekor anjin yang sangat besar, Rena lansung menolongku walau dia juga sangat ketakutan dan sejak itu aku berteman dan akhirnya aku bersahabat dengan Rena.
“Pagi Rena.kamu baru datang?” tanyaku sambil menutup buku yang sedang aku baca.
“Tidak,aku sudah di sekolah sejak jam 5.30 pagi.karena sebentatlagi akan diadakan pertandingan tingkat nasional,jadi aku harus lebih giat berlatih” jawabnya sambil duduk di kursi di sampingku.
“berjuanglah,aku memdukungmu” kataku sambil melempar senyum dan Rena pun membalas senyumku, disaat bersamaan Guru pun masuk dan langsung memulai pelajaran.
Waktu terus berputar, langit pagi yang sejuk berganti memjadi senja yang tenang .setelah bel tanda sekolah telah berakhir berbunyi,seluruh murit bergegas pulang termasuk aku dan Rena.setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal,aku pun melangkah pergi.
“Rayne…kamu ada waktu sore ini?” Tanya Rena sambil berjalan kearahku
“Ada,memang kenapa?” jawabku
“tolong temani aku pergi membeli sepatu baru” Katanya sambil menunduk kepadaku
“boleh tapi kamu harus mentrakti makan” kataku sambil memegang perutku
“dasar perhitungan!Cuma makan yang biasa sajakan?” katanya sambil memeriksa dompetnya
“saya siap melayani anda” kataku sambil melempar senyum dan kami pun pergi menujuh sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal dengan kelengkapan barangnya.

Didalam pusat perbelanjaan yang luas dan dipenuhi oleh orang-orang yang berbelanja. Setelah masuk kedalam pusat perbelanjaan itu, kami segera menuju sebuah toko sepatu yang sangat besar. Aku berdiri disamping Rena dan memperhatikan yang dilakukan Rena pada sepatu-sepatu itu.
“Rena,ambil saja yang paling bagus.tidak usah memperhatikan sepatu itu satu persatu” kataku sambil menyerahkan sepatu yang terlihat bagus.
“huh..bagi pemain tenis sepatu bagaikan sebuah perisai dan raket bagaikan sebuah pedang.selain raket yang pas,pemain tenis juga harus memakai sepatu yang paling cocok dengan kaki. Intinya sepatu dan raket harus soulmate-nya pemain tenis itu” kata Rena sambil mencari sepatu yang dia maksut.saat aku bermaksut duduk,aku melihat sebuah sepatu yang cocok dengan Rena dan aku pun mengambilnya.
“soulmate ya?bagaimana dengan sepatu yang ini”kataku sambil menyerahkan sepatu itu dan Rena pun mencobanya
“Pas! ini dia soulmateku”katanya sambil tersenyum kepadaku dan aku pun membalasnyanya dengan tersenyum juga.setelah membayar sepatu itu, seperti janjinya Rena memtraktir aku makan dan kami pun pulang.

Berjalan beriring dengan jam pulang kantor,aku dan Rena menunggu lampu lalulintas berwarna merah agar dapat menyerang. Sambil menunggu aku diam sambil memperhatikan tingkah Rena yang sedang bermain dengan seorang anak kecil yang bersama ibunya.
“Baru sadar Rena”kataku
“sadar apa?”Tanyanya sambil terus bermain dengan anak kecil itu
“sadar bahwa kamu adalah seorang perempuan”jawabku sambil mengelus-elus kepala Rena
“sejak awal aku sudah sadar sebagai seorang perempuan”katanya sambil menepis tanganku
“hahaha…bercanda.sejak pertama kita bertemu,kamu memang perempuan yang cantik”godaku dan Rena terdiam dengan wajah yang memerah. Tiba-tiba saat aku sedang menggoda Rena,mainan anak kecil yang ada disamping Rena terjatuh ketengah jalan dan anak itu berjalan menuju ketengah jalan untuk mengambil mainannya dan disaat bersamaan sebuah mobil sedang melaju dengan kencang tepat kearah anak kecil itu. Melihat itu aku pun segera berlari ke arah anak kecil itu dan langsung memeluk anak itu, sementara itu mobil itu mulai mengerem tapi kecepatan mobil itu tidak berkurang dan hanya tinggal 1 meter sebelum mobil itu menabrtak kami.Tiba-tiba, tubuhku terdorong oleh sesuatu hingga aku memjauh dari jalur mobil itu.kemudian terdengar suara benturan yang sangat keras dari arah tempat aku terdorong,saat aku menoleh ke tempat itu aku melihat Rena yang berlumuran darah dan tergeletek di depan mobil itu.aku segera melepaskan pelukanku pada akan kecil itu dan langsung berlari kearah Rena
“cepat panggil ambulan!”teriakku dangan penuh emosi tampa aku sadari darah segar mulai menetes dari kepalaku dan kesadaranku mulai melemah dan akhirnya semuanya menjadi gelap.

Perlahan kubuka mataku dan dan aku melihat ayah dan ibuku yang sedang menangis di sempingku
“hai,apa kabar?”kataku menyapa mereka sambil tersenyum dan mereka langsung memelukku.
“aku tidak apap-apa,bagai mana keadaan Rena?”tanyaku,karena aku yang keadaan Rena lebih serius dari pada aku
“Rena baik-baik saja tapi dia….”kata ayahku dengan sangat berat. akhirnya aku tahu keadaan Rena yang sebenarnya.aku terdiam di ruangan itu setelah mengetahui yang sebenarnya,rasanya hatiku terasa sangat berat dan penuh dengan kecemasaan.setelah diam sesaat untuk memenangkan diri,aku memutuskan untuk pergi ke tempat Rena di rawat.saat aku masuk kedalam kamar Rena,aku melihat Rena yang tertidur diatas kasurnya dengan banyak luka ditubuhnya dan yang paling menakutukan saat melihat kaki Rena yang terbungkus total dengan perban yang berarti Rena sudah kehilangan impiannya.perlahan aku melangkah mendekati Rena dan langsung menggengam tangannya
“Rena,kenapa kau lakukan itu?”kataku penuh ke pedihan dan tampa aku sadari air mataku menetes
“kau tidak perlu menolongku pada saat itu dan hanya aku yang terlukan dan kau tidak perlu mengalaminya”kataku dengan air mata yang makin bertambah
Waktu terus berputar dan akhirnya Rena sadar dan mulai membuka matanya
“selamt pagi,tuan putri”kataku kepada Rena sambil menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.
“pagi?bagaimana keadaanmu?”tanyanya dengan lembut
“aku baik-baik saja tapi kamu…”kataku dengan air mata hendak keluar
“tidek usah dilanjutkan…Rayne,bisa tinggalkan aku sandiri dulu”katanya dengan lembut sambil tersenyum dan aku pun melangkah pergi.walau Rena tersenyum tapi aku tahu hatinya sangat hancur karena kehilangan mimpinya. Satu minggu telah berlalu sejak kejadian itu dan Rena salalu berusaha agar terlihat ceria dan kuat seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
“bagaimana kalau besok kita pergi ke taman”kataku sambil membuka jendela agar udara segar bisa masuk
“wah,sejak kapan tuan serius senang pergi ketaman?”katanya dengan berusaha tertawa tapi sangat terasa itu hanya kebohongan dan aku merasa sangat muak akan kebohongan Rena yang sok kuat dan ceria.
“Hentikan itu!aku sangat muak melihat sisimu yang penuh kebohongan itu.terlihat ceria dan kuat tapi sebenarnya rapuh dan tak berdaya”teriakku dan suasana kamar itu berubah menjadi tindak mengenakkan
“apa yang kau tahu tentang perasaanku..aku tidak bisa lagi meraih mimpi”balasnya kepadaku sambil terisak menangis
“walau kau tidak bisa lagi berlari tapi kau masih bisa mencari mimpi lain”balasku dengan suara yang lebih keras
“berlari adalah mimpiku dan jati diriku...tampa mimpi apa yang bisa aku lakuakan”katanya dengan meneteskan air mata
“mimpi bisa berganti tapi jari diri tidak akan hilang..sosokmu yang aku kenal adalah sosok yang penuh kejujuran dan pantang menyerah tapi sekarang aku hanya melihat Rena yang penuh topeng kepalsuan”kataku sambil mendorong Rena sampai terbaring di kasurnya dan itu berlangsung beberapa saat dan setelah menenangkan diri akhirnya aku sadar.
“maaf..”kataku dan aku langsung melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.aku berjalan tampa tujuan sampain akhirnya aku sampai di sebuah lapangan tenis dan aku duduk sambil mengkadap lapangan itu.saat melihat ada orang yang bermain tenis memakai kursi roda,aku langsung berlari kearah lapangan itu dan lansung bertanya tentang apa yang mereka lakukan.Dalam hatiku,aku sangat sengan telah menemukan jalan untuk Rena.

Lanit biru menandakan pagi ini akan cerah. aku berjalan menuju kearah kamar Rena sambil membawa kursi roda dan sebuah raket tenis milik Rena.
“selamat pagi Rena,saatnya jalan-jalan”kataku sambil mengangkat Rena dari kasurnya ke kursi roda yang aku bawa,tampa memberi tahu apa yang akan aku lakukan ,aku langsung menutup mata Rena dan lansung membawa Rena ke lapangan tenis dan selama perjalanan dia terus memberontak,dengan penuh perjuangan akhirnya sampai.saat kami sampai di lapangan itu dan aku melepaskan penutup mata pada Rena
“mungki kamu tidak bisa berlari lagi di lapangan menggunakan kakimu sendiri tapi kamu masih bisa berjuang dilapangan memakai kursi roda ini”kataku sambil menyerahkan raket tenis kepada rena
“tapi aku..aku”katanya dengan tergugup
“sosok Rena yang aku kenal adalah sosok yang selalu berjuang dan penuh mimpi bukan sosok yang pasra pada nasip dan kehilangan mimpi ”kataku sambil mendorong kuris roda itu dan sepertinya Rena mengerti apa yang ku maksut dan mulai maju ke lapangan itu
“terima kasih,Rayne.aku akan berusaha meraih mimpi lagi”katanya dengan penuh semangat dan itulah sosok yang sangat aku sukai dari Rena
“Rena!kejarlah mimpimu.jangan pernah berhenti”teriakku kepada Rena
“Dan Aku mencintaimu…”kataku dengan pelan dan ini lah awal dari kisah di lembaran baru yang dimulai di bawah sinar matahari pagi ini.

Tidak ada komentar: